Siapkan SPT 1770 SS Anda

Waktu terus bergulir dan tak terasa kita sudah bertemu kembali dengan bulan Maret. Ada apa dengan bulan Maret? Bagi anda yang punya NPWP bulan Maret ini tentu punya kewajiban untuk menyampaikan SPT. Tapi bagi anda yang belum ber-NPWP anda-secara formal–tentu belum wajib menyampaikan SPT. Tapi itu bukan berarti anda lantas tidak perlu tahu lebih jauh lagi.

Bagi anda yang baru pertama kali menyampaikan SPT, anda perlu ketahui bahwa formulir SPT PPh Orang Pribadi ada tiga. Masing-masing memiliki peruntukan yang berbeda–bergantung pada karakteristik dan kompleksitas penghasilan yang diterima oleh orang pribadi.

  1. Formulir 1770 SS ==> berarti formulir SPT orang pribadi sangat sederhana. Form ini hanya diperuntukkan bagi WPOP yang penghasilan setahunnya tidak lebih dari 60 juta, dan hanya menerima penghasilan dari satu pemberi kerja saja dan tidak menerima penghasilan lainnya selain dari bunga tabungan/deposito. Formulir ini hanya terdiri dari 1 (satu) halaman saja dan pada saat disampaikan harus dilampiri dengan formulir 1721 A1 (bukti potong PPh 21 untuk pegawai tetap).
  2. Formulir 1770 S ==> berarti formulis SPT orang pribadi sederhana. Form ini digunakan bagi WPOP yang menerima penghasilan dari pekerjaan (baik satu atau lebih pemberi kerja) yang memiliki penghasilan lebih dari Rp60 juta rupiah setahun.
  3. Formulit 1770  ==> formulir ini digunakan untuk melaporkan penghasilan orang pribadi pengusaha atau orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas.

PPh Pasal 25 untuk WPOP Baru

Artikel ini saya tulis karena beberapa hari yang lalu ada yang menanyakan kepada saya mengenai penghitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak yang baru beroperasi.

PPh Pasal 25 pada dasarnya merupakan pelunasan pajak di tahun berjalan yang dapat menjadi kredit pajak di akhir tahun. Nah, kewajiban untuk menyetorkan PPh Pasal 25 ini pun juga berlaku untuk Wajib Pajak baru. Bagi Wajib Pajak baru, kewajiban untuk menyetor angsuran PPh Pasal 25 dilakukan pada bulan di mana Wajib Pajak memeroleh penghasilan dari usaha atau pekerjaan bebasnya dalam tahun berjalan.

Sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 255/PMK.03/2008, Besarnya angsuran Pajak Penghasilan Pasal 25 untuk Wajib Pajak baru adalah sebesar PPh yang dihitung berdasarkan penerapan tarif umum atas penghasilan neto sebulan yang disetahunkan, dibagi 12 (dua belas).

Sayangnya, masih banyak Wajib Pajak yang bingung dengan pernyataan ini, karena dalam PMK tersebut maupun literatur aturan pajak lainnya tidak dicontohkan mengenai bagaimana cara menghitung PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak baru.

Dalam tulisan ini penulis akan mencoba untuk mencontohkan penghitungan tersebut, namun penulis baru akan membahas mengenai penghitungan PPh Pasal 25 untuk Wajib Pajak orang pribadi.

Contoh:

Pada bulan Januari 2010, Tuan Orochimaru (K1) memulai usahanya untuk memproduksi komersialnya berupa produk tekstil, namun demikian Tuan Orochimaru baru melakukan penjualan produknya pada bulan Juli 2010. Pada bulan ini telah terjual produk tekstil sebesar Rp100.000.000,00. Maka penghitungan PPh Pasal 25 untuk usaha Tuan Orochimaru adalah:

Misalnya, Tn Orochimaru memilih untuk menyelenggarakan pencatatan sehingga penghasilan neto dihitung dengan menggunakan norma (misalnya untuk usaha tekstil adalah 13,5%), maka laba neto fiscal Tn Orochimaru adalah sebesar Rp13.500.000,00.

Penghasilan neto disetahunkan adalah          Rp 162.000.000,00

(12 x Rp13.500.000,00)

Dikurangi PTKP/K1                                            Rp   18.480.000,00

Penghasilan Kena Pajak                                    Rp 143.520.000,00

PPh terutang dihitung dengan tarif Pasal 17  Rp   16.528.000,00

PPh Pasal 25 = Rp16.528.000,00/12 = Rp1.377.333,00 (Hanya untuk masa pajak Juli 2010)

Misalnya, di bulan selanjutnya, Agustus 2010, Tuan Orochimaru juga memeroleh omzet sebesar Rp120.000.000,00, maka penghasilan neto fiscal berdasarkan penghitungan norma adalah sebesar Rp16.200.000,00. Penghitungan angsuran PPh Pasal 25 untuk bulan Agustus.

Penghasilan neto disetahunkan adalah          Rp 194.400.000,00

(12 x Rp16.200.000,00)

Dikurangi PTKP/K1                                            Rp   18.480.000,00

Penghasilan Kena Pajak                                    Rp 175.920.000,00

PPh terutang dihitung dengan tarif Pasal 17  Rp   21.388.000,00

PPh Pasal 25 = Rp21.388.000,00/12 = Rp1.782.333,00 (Hanya untuk masa pajak Juli 2010)

Penghitungan PPh Pasal 25 untuk bulan selanjutnya dilakukan seperti cara di atas. Karenanya, penghitungan angsuran PPh Pasal 25 bisa jadi akan berbeda setiap masa.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.